Kedaulatan Allah dalam Sejarah Penebusan – Renungan Kisah Para Rasul 13:13-26

Table of Contents
Gambar ilustrasi Kedaulatan Allah dalam Sejarah Penebusan
Bacaan: Kisah Para Rasul 13:13-26
"Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita..."
Kisah Para Rasul 13:17

Pendahuluan

Banyak orang memandang sejarah hanya sebagai rangkaian peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Namun Alkitab mengajarkan bahwa sejarah berada di bawah kendali Allah yang berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar rencana-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 13:13-26, Rasul Paulus menyampaikan khotbah pertamanya yang dicatat secara lengkap dalam Kitab Kisah Para Rasul. Di hadapan jemaat di Antiokhia Pisidia, Paulus tidak memulai dengan membicarakan dirinya sendiri, melainkan mengarahkan perhatian kepada karya Allah sepanjang sejarah Israel.

Bagi teologi Reform, bagian ini merupakan salah satu contoh yang indah mengenai Providensia Allah (pemeliharaan Allah) dan kedaulatan-Nya dalam sejarah penebusan (redemptive history). Allah bukan sekadar bereaksi terhadap keadaan manusia, melainkan sejak semula telah mengarahkan seluruh sejarah menuju kedatangan Kristus sebagai Juruselamat.

1. Allah Berinisiatif Memilih Umat-Nya

Paulus membuka khotbahnya dengan mengatakan,

"Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita..." (ayat 17).

Perhatikan bahwa subjek utama dalam bagian ini adalah Allah. Berkali-kali Paulus mengatakan:

  • Allah memilih.
  • Allah meninggikan bangsa itu.
  • Allah membawa mereka keluar dari Mesir.
  • Allah memelihara mereka di padang gurun.
  • Allah memberikan negeri Kanaan.
  • Allah memberikan hakim-hakim.
  • Allah mengangkat Saul.
  • Allah mengangkat Daud.

Seluruh sejarah keselamatan adalah karya Allah.

Inilah salah satu penekanan utama teologi Reform: keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah, bukan usaha manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak mungkin mencari Allah jika Allah sendiri tidak lebih dahulu mencari manusia.

Matthew Henry menulis:

"Segala sesuatu yang baik dalam sejarah Israel berasal dari kasih karunia Allah, bukan karena kelayakan bangsa itu."

Pilihan Allah atas Israel bukan karena mereka bangsa terbesar atau paling saleh, melainkan karena kasih karunia-Nya semata (Ulangan 7:7-8). Prinsip yang sama berlaku bagi setiap orang percaya pada masa kini.

2. Allah Memimpin Sejarah Sesuai Rencana-Nya

Dalam ayat 17-22 Paulus merangkum lebih dari seribu tahun sejarah Israel hanya dalam beberapa kalimat.
Mengapa?

Karena Paulus ingin menunjukkan bahwa seluruh sejarah itu memiliki satu tujuan: membawa umat kepada Mesias.

Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa tujuan ilahi.

  • Keluaran dari Mesir.
  • Perjalanan di padang gurun.
  • Penaklukan Kanaan.
  • Masa hakim-hakim.
  • Pemerintahan Saul.
  • Pemerintahan Daud.

Semuanya merupakan bagian dari rencana besar Allah.

Tokoh reformasi Jhon Calvin menegaskan bahwa providensia Allah bukan hanya mengawasi dunia secara umum, tetapi mengatur setiap detail sejarah sesuai kehendak-Nya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan; semuanya berlangsung menurut keputusan Allah yang kekal.

Hal ini memberikan penghiburan besar bagi orang percaya. Kehidupan kita juga berada di tangan Allah yang sama. Apa yang tampak sebagai kegagalan, penantian, atau kesulitan sering kali merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar daripada yang dapat kita lihat saat ini.

3. Daud Menjadi Gambaran Raja yang Akan Datang

Ayat 22 menjadi titik penting:

"Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku."

Daud bukan tokoh utama dalam sejarah penebusan. Ia hanyalah bayangan yang menunjuk kepada Raja yang sempurna, yaitu Yesus Kristus.
Daud memang dipilih Allah, tetapi ia juga seorang berdosa. Ia gagal dalam banyak hal. Namun Allah tetap memegang janji-Nya untuk mendatangkan seorang Raja dari keturunannya.
Di sinilah kita melihat kesetiaan Allah.
Manusia dapat gagal, tetapi janji Allah tidak pernah gagal.

4. Seluruh Sejarah Mengarah kepada Kristus

Puncak khotbah Paulus muncul pada ayat 23:

"Dan dari keturunannya, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus."

Inilah inti seluruh Alkitab.
Sejarah Israel bukan sekadar kumpulan cerita moral.
Bukan pula kisah kepahlawanan tokoh-tokoh iman.
Semuanya mengarah kepada Kristus.

Inilah yang sering disebut dalam teologi Reform sebagai sejarah penebusan (redemptive history). Seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus sebagai penggenapan janji Allah. Edmund Clowney, seorang teolog Reform, mengatakan:
"Seluruh Kitab Suci menemukan puncaknya di dalam Yesus Kristus."
Edmund Clowney

Karena itu, ketika membaca Perjanjian Lama, kita tidak berhenti pada Abraham, Musa, Yosua, atau Daud. Semua tokoh tersebut menjadi penunjuk jalan menuju Kristus.

5. Yohanes Pembaptis Menyiapkan Jalan bagi Mesias

Paulus kemudian mengingatkan tentang pelayanan Yohanes Pembaptis (ayat 24-25).
Yohanes tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Ia berkata,
"Aku bukanlah Dia."
Pelayanan sejati selalu mengarahkan manusia kepada Kristus, bukan kepada pelayannya.

Dalam dunia yang sering mengagungkan tokoh agama, popularitas, dan pengaruh pribadi, teladan Yohanes sangat relevan. Semua pelayanan gereja seharusnya membuat Kristus semakin dikenal, sementara pelayan-Nya semakin merendahkan diri.

Aplikasi Bagi Orang Percaya

Dari bagian ini kita belajar beberapa kebenaran penting.

Pertama, percayalah kepada kedaulatan Allah. Hidup kita tidak berjalan secara acak. Allah yang memimpin sejarah Israel juga memimpin kehidupan setiap anak-Nya.

Kedua, bersandarlah pada kasih karunia Allah. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah yang bekerja sejak semula.

Ketiga, bacalah seluruh Alkitab dengan berpusat kepada Kristus. Jangan hanya mencari tokoh teladan atau pelajaran moral. Carilah bagaimana setiap bagian Alkitab menyatakan karya Kristus.

Keempat, arahkan seluruh pelayanan kepada Kristus. Seperti Yohanes Pembaptis, tujuan utama pelayanan bukan meninggikan diri sendiri, melainkan memuliakan Yesus.

Penutup

Kisah Para Rasul 13:13-26 memperlihatkan bahwa Allah adalah Penguasa sejarah. Dari pemilihan Israel, pembebasan dari Mesir, pemberian tanah perjanjian, pengangkatan Daud, hingga kedatangan Yesus Kristus, semuanya berlangsung sesuai rencana-Nya yang sempurna.

Bagi orang percaya, hal ini menjadi sumber penghiburan yang besar. Allah yang menggenapi janji-Nya sepanjang sejarah adalah Allah yang sama yang memegang hidup kita hari ini. Tidak ada keadaan yang berada di luar kendali-Nya. Karena itu, marilah kita hidup dalam iman, bersandar pada anugerah-Nya, dan memusatkan seluruh hidup kepada Kristus, Sang Juruselamat yang telah dijanjikan sejak dahulu kala.

"Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Seluruh sejarah adalah panggung tempat Ia menyatakan kemuliaan Kristus dan melaksanakan rencana penebusan-Nya."
Diadaptasi dari pemikiran Yohanes Calvin mengenai providensia Allah.

Posting Komentar