Karunia Roh Kudus untuk Membangun Jemaat: Renungan 1 Korintus 14:6-9

"Demikian jugalah kamu, jika kamu tidak mengucapkan kata-kata yang jelas dengan bahasamu, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Artinya kamu berkata-kata di udara."
Pendahuluan
Komunikasi yang baik bukan sekadar berbicara, tetapi memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh pendengarnya. Hal ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi dalam pelayanan gereja. Firman Tuhan bukan diberikan untuk membingungkan umat-Nya, melainkan untuk menerangi hati dan mengubah kehidupan mereka.
Dalam 1 Korintus 14, Rasul Paulus sedang meluruskan penyalahgunaan karunia rohani di jemaat Korintus. Sebagian jemaat sangat mengagungkan karunia berbahasa roh hingga melupakan tujuan utama karunia tersebut, yaitu membangun tubuh Kristus. Pada ayat 6-9, Paulus menegaskan bahwa perkataan yang tidak dapat dipahami tidak akan membawa manfaat bagi jemaat.
Dari sudut pandang teologi Reform, bagian ini mengingatkan bahwa Allah adalah Allah yang menyatakan diri melalui Firman-Nya yang dapat dipahami, sehingga pemberitaan Firman harus selalu mengutamakan kejelasan dan pengertian.
1. Firman Tuhan Diberikan untuk Membangun, Bukan Membingungkan
Paulus bertanya, "Apakah faedahnya bagi kamu, jika aku datang kepadamu dengan bahasa roh, tetapi aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?" (ayat 6).
Pertanyaan ini langsung menyentuh inti persoalan.
Pelayanan bukan diukur dari betapa mengesankannya seorang pembicara, melainkan dari sejauh mana jemaat dibangun oleh Firman Tuhan.
Paulus menyebut empat bentuk pelayanan Firman:
- penyataan Allah,
- pengetahuan,
- nubuat,
- pengajaran.
Semuanya memiliki satu tujuan, yaitu membawa jemaat mengenal Allah dengan lebih benar.
Dalam teologi Reform, pemberitaan Firman (preaching of the Word) merupakan salah satu tanda utama gereja yang sejati. Allah bekerja melalui Firman yang diberitakan dengan setia dan dipahami oleh umat-Nya.
Jhon Calvin menulis:Di mana Firman Allah diberitakan dengan murni dan didengar dengan sungguh-sungguh, di sanalah gereja tidak dapat diragukan keberadaannya.
Karena itu, pusat ibadah bukanlah pengalaman emosional semata, melainkan pemberitaan Firman yang jelas dan setia kepada Alkitab.
2. Allah Adalah Allah yang Teratur
Paulus kemudian memberikan ilustrasi tentang alat musik.
"Jika suling atau kecapi tidak mengeluarkan bunyi yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu yang sedang dimainkan?" (ayat 7).
Kemudian ia menambahkan ilustrasi mengenai sangkakala.
"Jika nafiri mengeluarkan bunyi yang tidak jelas, siapakah yang akan bersiap-siap untuk berperang?" (ayat 8).
Ilustrasi ini sangat sederhana namun mendalam.
Musik memiliki tujuan apabila nada-nadanya dapat dikenali.
Sangkakala hanya berguna jika menghasilkan aba-aba yang jelas.
Begitu pula pemberitaan Firman.
Jika tidak dapat dipahami, maka tidak akan menghasilkan pertumbuhan rohani.
Teologi Reform menegaskan bahwa Allah bukan Allah kekacauan. Seluruh penyataan-Nya dalam Alkitab diberikan agar umat mengenal kehendak-Nya dengan benar.
"Karunia yang paling berguna adalah karunia yang membangun pengertian orang lain. Pengetahuan yang hanya dinikmati diri sendiri tidak memenuhi tujuan kasih Kristen."
Dengan demikian, setiap pelayanan harus bertujuan membangun sesama, bukan menonjolkan diri.
3. Pengertian Lebih Penting daripada Kesan
Ayat 9 menjadi kesimpulan Paulus:
"Jika kamu tidak mengucapkan kata-kata yang jelas... kamu berkata-kata di udara."
Ungkapan "berkata-kata di udara" menggambarkan sesuatu yang sia-sia.
Pesan yang tidak dimengerti tidak akan menghasilkan iman.
Hal ini sejalan dengan Roma 10:17:
"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus."
Karena itu, Reformasi Protestan sangat menekankan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa rakyat dan pemberitaan Firman yang mudah dipahami.
Tokoh-tokoh Reformasi percaya bahwa setiap orang percaya harus dapat mendengar Firman dalam bahasa yang mereka mengerti.
Inilah sebabnya Martin Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, sementara William Tyndale memperjuangkan Alkitab berbahasa Inggris meskipun harus mengorbankan nyawanya.
Firman Allah harus dapat dipahami agar Roh Kudus bekerja melalui Firman itu di dalam hati manusia.
4. Tujuan Karunia Roh Kudus Adalah Membangun Tubuh Kristus
Dalam konteks yang lebih luas, Paulus tidak sedang merendahkan karunia bahasa roh.
Sebaliknya, ia sedang mengembalikan fungsi karunia kepada tujuan yang benar.
Karunia Roh Kudus tidak diberikan untuk menunjukkan tingkat kerohanian seseorang.
Karunia diberikan untuk melayani orang lain.
Inilah prinsip penting dalam teologi Reform mengenai karunia rohani.
Semua karunia berasal dari anugerah Allah.
Semua karunia harus digunakan demi kemuliaan Kristus dan pembangunan jemaat.
Tidak ada karunia yang diberikan untuk meninggikan diri sendiri.
Aplikasi bagi Orang Percaya
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan.
Pertama, utamakan Firman yang dipahami. Saat membaca Alkitab, mengikuti khotbah, atau mengajar, usahakan agar Firman benar-benar dimengerti sehingga menghasilkan perubahan hidup.
Kedua, jangan mengejar pengalaman rohani yang spektakuler tanpa pengenalan akan Firman Tuhan. Pertumbuhan rohani yang sejati lahir dari pekerjaan Roh Kudus melalui Firman yang dipahami dan ditaati.
Ketiga, dalam setiap pelayanan, bertanyalah: Apakah yang saya lakukan membangun iman orang lain? Pelayanan Kristen bukan panggung untuk mencari pengakuan, tetapi sarana untuk membangun tubuh Kristus.
Keempat, hargailah pengajaran Alkitab yang setia. Gereja yang sehat adalah gereja yang menempatkan pemberitaan Firman sebagai pusat ibadah, sebab melalui Firman itulah Allah menuntun umat-Nya kepada kedewasaan rohani.
Penutup
Renungan dari 1 Korintus 14:6-9 mengajarkan bahwa Allah menghendaki Firman-Nya diberitakan dengan jelas agar dipahami oleh umat-Nya. Karunia rohani bukan diberikan untuk menimbulkan kekaguman, melainkan untuk membangun gereja dan memuliakan Kristus.
Sebagai orang percaya, marilah kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Firman Tuhan. Kiranya setiap perkataan, pengajaran, dan pelayanan yang kita lakukan membawa orang semakin mengenal Kristus, sebab hanya Firman yang dipahami dan dikerjakan yang akan menghasilkan iman yang teguh dan kehidupan yang memuliakan Allah.
"Firman Allah bukan diberikan untuk menghibur rasa ingin tahu, tetapi untuk mengubah hati dan kehidupan manusia."
Posting Komentar