Bookmark

Kasih dan Keadilan Allah

LATAR BELAKANG

Kematian Yesus di salib bukan karena Yesus adalah seorang penjahat atau pemberontak sehingga harus disalibkan. Kematian Yesus di salib bukan pula karena Yesus gagal dalam menjalani hidup-Nya di dalam dunia. Tetapi kematian Yesus di salib adalah jalan yang ditentukan Allah Bapa bagi Yesus Kristus di dalam dunia. Dengan jalan penyaliban dan kematian, pengampunan dosa dinyatakan dan keselamatan tersedia bagi setiap orang percaya. Kematian Yesus bukan pula kematian seorang manusia duniawi, melainkan kematian seorang yang memiliki keilahian sebagai Anak Allah, yang diutus “Allah Bapa ke dalam dunia. Dengan demikian, Kematian berarti Yesus menyerahkan diri-Nya menjadi korban persembahan yang dapat dilihat oleh dunia. Menjadi bukti nyata, tanda hidup dari kasih-Nya yang membebaskan dosa, mengalahkan maut dan menyelamatkan manusia. Kematian Yesus merupakan pula tebusan untuk melunasi utang dosa manusia. Tujuan utama kematian Yesus adalah untuk membenarkan manusia yang telah berdosa dan hilang kemuliaan Allah. Jadi kematian Yesus adalah penggenapan sempurna rencana keselamatan Allah Bapa atas dasar kasihnya kepada manusia.

KALENDER GEREJAWI PERJAMUAN PASKAH
PEMBACAAN ALKITAB Markus 15:33-41
TEMA KASIH DAN KEADILAN ALLAH

PEMBAGIAN TEKS DAN PENJELASANNYA

Ayat 33, memberi kesaksian tentang tanda yang menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh Anak Allah, yaitu kegelapan meliputi seluruh daerah dari jam dua belas sampai jam tiga. Kegelapan ini bukan gejala alam biasa, tetapi merupakan tanda penghakiman Allah atas dosa manusia yang di tanggung Yesus Kristus di salib. Seolah-olah Yesus di hakimi oleh Allah karena dosanya. tetapi sesungguhnya la sedang menanggung dosa manusia dalam penderitaannya di salib dan kematian-Nya memikul dosa manusia.

Ayat 38 membenarkan bahwa Yesus diutus menjalankan rencana Allah g, maka dalam situasi penderitaan la berseru kepada Bapa-Nya: Eloi, Eloi lama sabakhtani? “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? Ungkapan ini seolah-olah Allah Bapa meninggalkan Dia dalam penderitaan-Nya. Tetapi sebenarnya tidak. Ungkapan ini menyatakan betapa beratnya penderitaan, yang la tanggung karena dosa manusia. Orang pada saat itu tidak mengenal dan mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah. Itulah sebabnya, mendengar, yang dikatakan Yesus, beberapa orang katakan Ia memanggil Elia. Perkataan, ini menyatakan bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki pengetahua, kebenaran tentang Yesus dan karya-Nya di dalam dunia.

Ayat 35-36, menjelaskan seorang dengan bunga karang, mencelupkan ke dalam anggur asam memberi Yesus minum. Ini merupakan tanda ejekan dan penderitaan dan juga bentuk penghinaan prajurit Romawi terhadap Yesus Tetapi hal ini merupakan penggenapan nubuat dalam Mazmur 69:22 “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam.” Untuk mewujudkan rencana Allah, maka Yesus menolak meminumnya, karena Yesus harus menanggung - penderitaan dengan sungguh- sungguh, tidak dengan setengah-setengah untuk menebus dosa manusia.

Ayat 37-39, memberi kesaksian tentang tiga peristiwa: Yesus berseru dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah Bapa, tabir Bait Suci terbelah dua, : kepala pasukan mengaku, sungguh orang ini Anak Allah. Peristiwa-peristiwa ini menjelaskan makna, bahwa terbelahnya tabir atau tirai Bait Suci, berarti pemisahan yang dibuat manusia antara tempat atau ruang kudus dan Maha Kudus dalam Bait Allah, dan terbelahnya tabir itu menunjukkan bahwa jalan mendekati atau menuju Allah kini terbuka bagi semua orang. Sekat-sekat yang dibuat manusia dalam Bait Suci kini diruntuhkan tanpa batas. Imam besar yang menjadi perantara mempersembahkan korban bagi pengampunan dosa umat. kini berpusat pada Yesus Kristus. la menebus dosa dengan hidup-Nya, darah-Nya sendiri, bukan dengan darah binatang seperti yang dilakukan imam besar. Imam besar setiap tahun masuk ke ruang Maha kudus untuk mempersembahkan korban bagi pengampunan dosa. Sekarang, Yesus sendiri adalah korban sempurna bagi pengampunan dosa manusia, sekali untuk selama-lamanya.

Ayat 40 - 41, memberitakan tentang kaum perempuan yang menyaksikan penyaliban dan kematian Yesus dari jauh. Kondisi yang dialami Yesus tidak membuat mereka takut atau gentar terhadap musuh-musuh Yesus. Sebab mereka adalah perempuan-perempuan yang setia mengikuti Yesus dan melayani-Nya di Galilea, yaitu: Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda (salah satu perempuan yang pergi ke makam Yesus setelah la dikuburkan). Dalam Injil Markus dan Lukas disebut Maria ibu Yakobus. Dalam Injil Matius disebut Maria ibu Yakobus dan Yusuf) dan Yoses (nama ini merujuk kepada Yusuf), serta Salome (ibu Yakobus dan Yohanes. salah satu perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea dan hadir dalam penyaliban Yesus), dan perempuan lain yang datang ke Yerusalem bersama Yesus. Mengapa perempuan-perempuan selalu tampil sejak Yesus dilahirkan sampai Yesus di salib? Perempuan dalam sejarah penyelamatan selalu menjadi tokoh penting pada setiap peristiwa yang di hadapi Yesus. Karena itu, Markus menyebut beberapa nama tokoh perempuan yang selalu setia mengikuti dan melayani Yesus. Kenyataan ini menyatakan bahwa perempuan adalah “simbol keteladanan, kesetiaan, pengabdian, pelayanan kepada Yesus, memberitakan kebangkitan, dan memberitakan Injil.

PENERAPAN

Yesus di hukum mati di salib, bukan karena dosa atau melakukan kejahatan. Tetapi itulah jalan yang harus dilalui sebagai ganti manusia berdosa. Kematian di salib menjadi bukti kasih dan karya keselamatan-Nya bagi manusia. Tanpa salib dan kematian, manusia tetap berada dalam dosa dan tidak memiliki masa depan.

Salib dan kematian mengajarkan bahwa kita tidak hanya mengetahui dan bangga akan karya-karya Yesus. Tetapi yang terutama kita terpanggil untuk mengerti dan melakukan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam salib dan kematian Yesus. Kepercayaan kepada salib dan kematian harus nyata dalam kehidupan dan tanggung jawab kita lakukan sebagai murid Yesus.

Kita perlu memiliki kesadaran baru tentang siapa Yesus dalam diri, hidup dan keluarga kita. Kita terus belajar : menghindari cara pandang dan sikap prajurit Romawi yang tidak mengetahui, Yesus sebagai Anak Allah sehingga mereka menyiksa dan menghukum Dia di salib, Sampai mati. Karya pengorbanan Yesus, kematian-Nya, tubuh dan darah-Nya, merupakan roti dan anggur kehidupan yang harus dimaknai dalam hidup, sehingga kita mampu menyaksikan salib dan kematian Yesus. Kita harus hidup sebagai umat yang telah diselamatkan, yang sudah dibebaskan dari dosa dan Maut oleh tubuh dan darah Kristus.

Posting Komentar

Posting Komentar