Bookmark

Dipersatukan di Dalam Kristus

LATAR BELAKANG

Dimasa dan suasana sukacita Paskah, masa di mana Gereja merenung karya kebangkitan Kristus yang membawa hidup baru bagi dunia. Paska bukan hanya kisah tentang Yesus yang bangkit dari antara orang mati. Tetapi juga tentang kebangkitan hubungan - hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Kebangkitan Kristus mengubah segalanya. Jika dosa memisahkan manusia dari Allah dan menimbulkan tembok pemisah di antara sesama manusia, maka melalui salib dan kebangkitan-Nya, Kristus menghancurkan semua tembok pemisah itu dan menghadirkan perdamaian serta kesatuan baru. Kita melihat bahwa Inilah pesan kuat dari surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Jemaat ini terdiri dari dua kelompok yang dulu sulit bersatu: orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (bangsa-bangsa lain). Perbedaan latar belakang, adat, dan pandangan sering menimbulkan jurang pemisah di antara mereka. Namun Paulus menegaskan bahwa di dalam Kristus, semua perbedaan itu tidak lagi menjadi penghalang. Minggu Paskah ini mengingatkan kita bahwa karya kebangkitan Kristus bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tetapi juga untuk membangun kehidupan bersama yang penuh kesehatian dan damai. Itulah sebabnya tema kita hari ini berbunyi: “Dipersatukan di dalam Kristus.” Dan tema ini sangat relevan dengan arah perjalanan gereja di tahun 2026, yaitu “Tahun Kepedulian”

Minggu, 26 April 2026
KALENDER GEREJAWIMINGGU PASKAH IV
PEMBACAAN ALKITABFFFESUS 2 : 11 - 29
TEMADIPERSATUKAN DI DALAM KRISTUS

PEMBAGIAN TEKS DAN PENJELASANNYA

Dari bagian teks bacaan kita ini maka ada beberapa hal yang perlu kita lihat antara lain :

Kristus adalah damai sejahtera kita (ayat 14-18) Paulus kemudian menegaskan: “Ia (Kristus) adalah damai sejahtera kita. Ia telah mempersatukan kedua pihak dan merobohkan tembok pemisah.” Gambaran “tembok pemisah” ini sangat myata pada masa itu. Di Bait Allah Yerusalem ada tembok yang memisahkan "pelataran bangsa-bangsa lain dari pelataran orang Yahudi. Siapa pun bangsa lain yang melampaui batas itu akan dihukum mati. Tetapi Paulus mengatakan bahwa di salib. Yesus menghancurkan tembok pemisah itu. Tuhan Yesus dalam karya-Nya yang agung itulah yang akhirnya menjadikan dua golongan menjadi satu manusia baru yang hidup dalam kasih Kristus dan yang terus menerus diperbaharui dalam kasihNya. la memperdamaikan mereka dengan Allah dan dengan sesama. Inilah inti dari karya Kristus yang bangkit: la mendamaikan dan mempersatukan. Damai di sini bukan hanya tidak adanya pertengkaran, tetapi hubungan yang dipulihkan, hidup dalam kasih dan kesatuan.

Kita menjadi satu keluarga Allah (ayat 19 - 22). Paulus menutup bagian ini dengan gambaran yang indah : “Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.” Kita semua, dengan latar belakang yang berbeda-beda, kini menjadi satu keluarga dalam Kristus. Dan keluarga ini dibangun seperti sebuah bangunan rohani, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Batu penjuru adalah fondasi utama yang menjaga agar seluruh bangunan tetap kokoh dan selaras. Demikian juga dengan gereja yang adalah lambang dari persekutuan : Kita bisa berbeda-beda - dari suku, budaya, atau cara berpikir - tetapi semuanya disatukan oleh Kristus sebagai pusat dan dasar kesatuan.

PENERAPAN

Apa makna dari pesan Paulus ini bagi kita di Tahun Kepedulian 2026 Selaras dengan sukacita dan bahagia di minggu-minggu Paskah ini ?

  1. Kristus adalah dasar kepedulian kita. Kepedulian yang sejati tidak dibangun di atas kesamaan pandangan, selera, atau kepentingan, tetapi di atas Kristus sendiri. Jika Yesus menjadi pusat hidup kita. maka perbedaan tidak akan memecah. melainkan memperkaya persekutuan kita. Seperti tubuh yang memiliki banyak anggota tetapi satu kepala, demikian juga gereja - banyak tetapi satu di dalam Kristus.
  2. Hancurkan tembok pemisah di antara kita. Tembok pemisah tidak sea , berupa tembok batu. Kadang berupa ego, kesombongan, prasangka, atau kepahitan hati. Dalam terang Paskah, kita dipanggil untuk membiarkan kuasa kebangkitan Kristus menghancurkan semua tembok itu - agar damai dan kesehatian sungguh terwujud. Jangan ada lagi “kami” dan “mereka”, tetapi “kita” - satu tubuh di dalam Kristus.
  3. Bangunlah kehidupan sebagai keluarga Allah. Sebagai keluarga Allah, kita dipanggil untuk saling menerima, saling menolong, dan saling menopang. Kepedulian bukan hanya selalu harus sependapat, tetapi mampu hidup bersama dalam kasih di tengah perbedaan bahkan mampu saling peduli antara satu dengan yang lain. Dalam setiap pelayanan, kegiatan, dan keputusan, marilah kita bertanya: “Apakah ini membangun rasa kepedulian kita dalam tubuh Kristus, atau justru menciptakan jarak ?” Jika setiap jemaat memelihara semangat itu, maka gereja akan menjadi tempat di mana kasih Allah dirasakan nyata - bukan hanya di dalam gedung gereja, tetapi juga di tengah dunia.

Paskah membawa kita kepada kehidupan baru dimana kehidupan yang tidak lagi dikuasai oleh kebencian dan perpecahan, tetapi oleh kasih dan kesatuan di dalam Kristus. Marilah kita hidup sebagai umat yang telah dipersatukan di dalam Kristus, menjadi bangunan rohani yang kuat, dan mewujudkan rasa kepedulian kita dalam setiap aspek kehidupan jemaat. Kiranya Tahun Kepedulian 2026 menjadi tahun di mana GKI dan setiap orang percaya Semakin Bersatu, saling menopang, saling peduli, saling melayani dalam kasih, Ian bersama-sama menjadi saksi dari damai Kristus di dunia ini.

Posting Komentar

Posting Komentar