Pendahuluan
Shalom, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita merenungkan satu hal penting yang sering kali kita lihat setiap hari, tetapi kadang kita pura-pura tidak melihatnya: kemiskinan. Kemiskinan bukan hanya masalah sosial, tetapi juga masalah iman. Mengapa? Karena cara kita memperlakukan orang miskin adalah cermin bagaimana kita menghormati Tuhan yang peduli kepada mereka.
Isi Khotbah
Imamat 25:35–55 mengingatkan kita bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap orang miskin. Allah peduli. Dan kalau Allah peduli, kita sebagai umat-Nya pun harus peduli.
Dari bagian firman Tuhan ini, kita belajar tiga pelajaran penting.
1. Orang Kristen Tidak Boleh Menutup Mata (ayat 35–37)
Firman Tuhan berkata:
“Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan hidup di antaramu, maka engkau harus menyokong dia…” (ayat 35).
Artinya, kita tidak boleh masa bodoh terhadap saudara kita yang kesulitan hidup. Membantu orang miskin bukan pilihan tambahan, tetapi perintah Allah.
Namun ada peringatan: jangan menjadikan bantuan sebagai kesempatan mencari keuntungan. Ayat 36–37 melarang kita menindas atau mencari kekayaan di atas penderitaan orang lain.
Sayangnya, sering kita melihat di masyarakat: ada yang justru menari-nari di atas penderitaan rakyat. Anggota DPR memperkaya diri di tengah jeritan rakyat, pengusaha mengambil keuntungan dari krisis, bahkan kadang orang Kristen pun bisa jatuh dalam godaan itu. Tapi firman Tuhan berkata: “Jangan!”.
Mengapa kita menolong? Tujuannya sederhana: supaya orang itu hidup. Karena lapar bisa membawa pada sakit, sakit bisa membawa pada kematian. Maka memberi bantuan adalah memberi kehidupan.
Dan bukankah itu yang Allah lakukan kepada kita? Ayat 38 berkata: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir…” Tuhan membebaskan Israel dari kemiskinan dan perbudakan Mesir untuk memberi mereka kehidupan baru. Demikian juga kita, yang dahulu diperbudak oleh dosa, kini hidup dalam Kristus. Maka kita menolong orang lain, karena kita sendiri sudah ditolong dan diberi hidup oleh Allah.
2. Membantu Bukan untuk Memperbudak (ayat 38–46)
Firman Tuhan juga menegaskan: jangan sekali-kali menjadikan orang miskin yang kita bantu sebagai budak.
Bantuan yang menjadikan orang semakin terikat kepada kita, atau dipaksa melayani kepentingan kita, bukanlah bantuan sejati. Itu hanya memindahkan penderitaan dari satu bentuk ke bentuk lain.
Tuhan berkata: “Jangan memperlakukan saudaramu sebagai budak.” Mengapa? Karena Israel sendiri pernah diperbudak di Mesir, tetapi Allah membebaskan mereka. Kita pun sama: dahulu kita diperbudak dosa, tetapi Kristus datang untuk memerdekakan kita.
Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Kalau Kristus memberi kita hidup, maka kita pun harus menjadi pembawa kehidupan bagi orang lain, bukan pembawa beban.
3. Prinsip Tahun Yobel: Membebaskan (ayat 54–55)
Akhir dari perikop ini berbicara tentang tahun Yobel—tahun pembebasan. Artinya, setiap orang harus dikembalikan pada kebebasannya, bukan dipenjara dalam utang atau penderitaan.
Ini mengajarkan kita prinsip penting: ketika menolong orang lain, tujuannya adalah membebaskan mereka dari beban hidup.
Mungkin bantuan itu berupa uang atau barang, tapi bisa juga berupa doa, kata-kata penghiburan, perhatian, bahkan kesempatan. Apa pun bentuknya, yang penting: orang itu merasakan kehidupan kembali.
Penutup
Saudara-saudara, melalui Imamat 25:35–55 kita belajar:
- Orang Kristen harus peduli dan menolong supaya orang miskin bisa hidup.
- Bantuan kita tidak boleh membuat orang terikat atau diperbudak.
- Prinsip kita dalam menolong adalah membebaskan dan memberi kehidupan.
Kita melakukan semua itu bukan supaya kita dipuji, tetapi karena kita telah lebih dulu menerima hidup dari Tuhan Yesus Kristus. Dialah sumber kehidupan kita.
Mari kita menjadi umat yang hadir membawa kehidupan, bukan kematian. Membawa pengharapan, bukan beban baru. Membawa pembebasan, bukan perbudakan.
Kiranya kita dikenal sebagai orang Kristen yang sungguh mencerminkan kasih Allah yang hidup.
Amin.



Posting Komentar