Bookmark

Khotbah: Kita Ini Debu

Bacaan: Mazmur 103:13-14

Pendahuluan

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan, pernahkah kita merasa lemah, gagal, atau tak berdaya menghadapi kehidupan? Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita siapa kita sesungguhnya:

“Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103:14)

Betapa rendahnya kedudukan kita di hadapan Allah—hanya debu. Namun justru di situlah kita menemukan kasih karunia Allah yang begitu besar.

Ilustrasi Khotbah Kita ini debu

1. Kasih Bapa yang Mengerti Kelemahan Kita

Matthew Henry menuliskan bahwa seorang bapa yang baik akan mengasihi anaknya meski mereka lemah, bahkan ketika mereka membangkang.

  • Demikianlah Allah, Ia tidak meninggalkan kita dalam kelemahan kita.
  • Ia bersabar, menghibur yang susah, menolong yang jatuh, dan mengampuni yang mau berbalik.

Inilah kasih seorang Bapa yang tidak terbatas oleh keadaan kita.

2. Tuhan Tahu Kita Ini Debu

Firman berkata: “Sebab Dia sendiri tahu apa kita” (ayat 14a).

  • Tuhan tahu kita rapuh. Dia tahu kita terbatas. Dia tahu kita penuh kelemahan.
  • Namun justru karena itulah, Ia berbelas kasihan.

Kita ini debu yang bisa hilang tertiup angin. Tetapi Allah, Sang Pencipta, tidak memperlakukan kita menurut kerentanan kita. Sebaliknya, Ia memandang kita dengan kasih sayang.

3. Hidup dalam Kesadaran sebagai Debu

Kesadaran bahwa kita ini debu bukan untuk membuat kita minder atau putus asa, tetapi untuk menuntun kita hidup dalam takut akan Tuhan.

Full Life Bible menegaskan: takut akan Tuhan itu adalah ketakutan yang memulihkan.

  • Bukan takut lari dari Tuhan, tetapi takut yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya.
  • Takut yang mendorong kita meninggalkan kejahatan.
  • Takut yang menolong kita hidup dalam kasih karunia-Nya.

Kesimpulan

Saudara yang dikasihi Tuhan, kita hanyalah debu, tetapi debu yang dikasihi Allah.

Di mata dunia kita mungkin lemah, gagal, atau tak berarti. Namun di mata Bapa, kita berharga, karena Ia memandang kita dengan kasih sayang seorang bapa yang penuh pengertian.

Maka, marilah kita hidup selalu mengandalkan Tuhan, takut akan Dia, dan berjalan dalam kasih karunia-Nya. Karena hanya di dalam kasih-Nya, debu yang rapuh bisa dipakai menjadi alat yang mulia.

Amin.

Posting Komentar

Posting Komentar