Bookmark

Kristus Memberikan Teladan Untuk Melayani

Pembacaan AlkitabYohanes 13:1-20

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan,

Dalam kehidupan manusia, kebanyakan orang ingin dilayani daripada melayani. Dunia mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak orang yang harus melayaninya. Semakin besar jabatan seseorang, semakin besar pula penghormatan yang diterimanya.

Namun Yesus Kristus memberikan pandangan yang berbeda. Di dalam Kerajaan Allah, kebesaran seseorang tidak diukur dari berapa banyak orang yang melayaninya, melainkan dari kesediaannya melayani orang lain.

Ayat Kunci: Yohanes 13:15 "Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."
Elustrasi Kristus memberi teladan untuk melayani

Yohanes 13 mencatat salah satu peristiwa yang paling mengesankan dalam pelayanan Yesus. Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan murid-murid-Nya. Ia mengambil handuk, mengikatkannya pada pinggang-Nya, lalu membasuh kaki para murid.

Pada zaman itu, membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Jalan-jalan yang berdebu dan penggunaan sandal membuat kaki para tamu menjadi kotor. Biasanya seorang pelayanlah yang melakukan tugas tersebut. Namun pada malam itu, Sang Guru, Sang Mesias, dan Sang Anak Allah justru mengambil posisi seorang hamba.

Melalui tindakan ini, Yesus memberikan teladan yang luar biasa tentang arti pelayanan yang sejati.

1. Melayani Berasal dari Kasih yang Tulus

Pasal ini dimulai dengan pernyataan yang sangat indah:

"Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya." (Yohanes 13:1)

Sebelum Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Alkitab terlebih dahulu menegaskan kasih-Nya kepada mereka.

Pelayanan yang sejati selalu lahir dari kasih.. Seseorang dapat melakukan banyak pekerjaan gereja tanpa kasih. Seseorang dapat aktif dalam pelayanan tetapi kehilangan hati seorang pelayan. Namun pelayanan yang berkenan kepada Tuhan adalah pelayanan yang didasarkan pada kasih.

Yesus tidak membasuh kaki murid-murid-Nya karena kewajiban. Ia melakukannya karena kasih-Nya kepada mereka.

Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika kita melayani keluarga, gereja, masyarakat, atau sesama, motivasi utama kita haruslah kasih.

Kasih membuat pelayanan menjadi sukacita.
Kasih membuat kita tetap setia meskipun tidak dihargai.
Kasih membuat kita terus memberi tanpa menghitung untung dan rugi.

Jika pelayanan kehilangan kasih, maka pelayanan itu hanya menjadi rutinitas belaka.

2. Kerendahan Hati Adalah Dasar Pelayanan

Hal yang paling mengagumkan dalam kisah ini adalah siapa yang melakukan pekerjaan itu.

Yesus mengetahui bahwa Ia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ia mengetahui bahwa segala kuasa telah diberikan kepada-Nya. Namun justru karena itulah Ia memilih merendahkan diri.

Kerendahan hati bukan berarti merasa tidak berharga. Kerendahan hati adalah kesediaan menggunakan segala yang kita miliki untuk melayani orang lain.

Yesus adalah Raja segala raja, tetapi Ia bertindak seperti seorang hamba.

Dunia berkata, "Naiklah setinggi mungkin agar dilayani."
Yesus berkata, "Rendahkanlah dirimu agar dapat melayani."
Sering kali manusia ingin diakui, dihormati, dan dipuji. Namun Kristus menunjukkan bahwa kebesaran sejati ditemukan dalam kerendahan hati.
Dalam keluarga, kerendahan hati terlihat ketika suami dan istri saling melayani.
Dalam gereja, kerendahan hati terlihat ketika setiap orang bersedia melakukan tugas kecil sekalipun.
Dalam masyarakat, kerendahan hati terlihat ketika kita membantu sesama tanpa mencari pujian.

Kristus mengajarkan bahwa tidak ada pelayanan yang terlalu kecil jika dilakukan untuk kemuliaan Allah.

3. Pelayanan Tidak Memilih Orang yang Dilayani

Salah satu hal yang menarik adalah Yesus membasuh kaki semua murid-Nya, Ia membasuh kaki Petrus yang kelak akan menyangkal-Nya, Ia membasuh kaki Tomas yang akan meragukan-Nya, Bahkan Ia membasuh kaki Yudas Iskariot yang akan mengkhianati-Nya.

Bayangkan betapa luar biasanya kasih Kristus. Ia mengetahui apa yang ada dalam hati Yudas, tetapi tetap melayaninya.

Sering kali kita hanya mau melayani orang yang baik kepada kita. Kita mudah menolong orang yang menghargai kita. Kita mudah mengasihi orang yang mengasihi kita. Namun Yesus memberikan teladan yang lebih tinggi. Ia mengajarkan bahwa pelayanan Kristen tidak didasarkan pada siapa yang layak menerima pelayanan, melainkan pada kasih Allah yang bekerja dalam diri kita.

Tentu bukan berarti kita membiarkan kejahatan atau mengabaikan hikmat. Namun kita dipanggil untuk memiliki hati yang rela melayani tanpa diskriminasi. Ketika kita melayani seperti Kristus, kita belajar melihat orang lain melalui mata kasih Allah.

4. Melayani Adalah Perintah, Bukan Pilihan

Setelah membasuh kaki para murid, Yesus berkata:

"Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu." (Yohanes 13:14)

Perhatikan kata "wajib." Yesus tidak berkata bahwa melayani adalah pilihan bagi sebagian orang Kristen saja.

Melayani adalah panggilan bagi setiap pengikut Kristus, tidak semua orang dipanggil menjadi Pendeta, tidak semua orang dipanggil menjadi pemimpin gereja, namun semua orang percaya dipanggil untuk melayani.

Pelayanan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk:

  • Menguatkan orang yang sedang berduka.
  • Mengunjungi orang yang sakit.
  • Mengajar anak-anak.
  • Membantu mereka yang membutuhkan.
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Berdoa bagi sesama.
  • Melayani dalam keluarga dengan kasih.

Ketika kita melayani, kita sedang meneladani Kristus. Pelayanan bukan hanya aktivitas gereja. Pelayanan adalah gaya hidup orang percaya.

5. Berkat Datang Melalui Pelayanan

Dalam Yohanes 13:17 Yesus berkata:

"Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya."

Dunia mengajarkan bahwa kebahagiaan diperoleh dengan menerima. Kristus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dalam memberi dan melayani.

Ada sukacita yang unik ketika kita menjadi saluran berkat bagi orang lain. Ada damai sejahtera ketika kita melihat hidup seseorang dikuatkan melalui pelayanan yang kita lakukan.

Banyak orang mengejar kebahagiaan untuk dirinya sendiri tetapi tidak pernah menemukannya. Sebaliknya, mereka yang hidup untuk melayani sering kali menemukan sukacita yang mendalam.

Mengapa demikian?

Karena ketika kita melayani, kita sedang hidup sesuai dengan tujuan yang Tuhan berikan. Kita menjadi alat di tangan Tuhan untuk memberkati dunia. Dan tidak ada kehormatan yang lebih besar daripada dipakai oleh Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Yohanes 13:1-20 menunjukkan kepada kita bahwa Kristus bukan hanya mengajarkan tentang pelayanan, tetapi juga memberikan teladan nyata.

Melalui tindakan membasuh kaki murid-murid-Nya, Yesus mengajarkan bahwa:

  1. Pelayanan harus lahir dari kasih yang tulus.
  2. Kerendahan hati adalah dasar pelayanan.
  3. Pelayanan tidak memilih siapa yang akan dilayani.
  4. Melayani adalah panggilan setiap orang percaya.
  5. Kebahagiaan sejati ditemukan dalam pelayanan.

Hari ini Tuhan mengundang kita untuk mengikuti teladan Kristus. Mungkin kita tidak dipanggil melakukan hal-hal besar menurut ukuran dunia. Namun kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Kita dapat melayani keluarga kita.
Kita dapat melayani gereja kita.
Kita dapat melayani sesama yang membutuhkan.
Dan ketika kita melayani dengan hati yang rendah seperti Kristus, dunia akan melihat kasih Tuhan melalui hidup kita.

Kiranya setiap kita dapat berkata seperti Kristus: bukan mencari untuk dilayani, tetapi siap untuk melayani.

Amin.

Posting Komentar

Posting Komentar