Renungan Keluaran 24:1-11: Perjamuan di Gunung Sinai

Table of Contents
Gambar ilustrasi Renungan Keluaran 24:1-11: Perjamuan di Gunung Sinai
Bacaan: Keluaran 24:1-11
"Mereka memandang Allah, lalu makan dan minum." (Keluaran 24:11)

Perjamuan yang Meneguhkan Perjanjian

Keluaran 24 merupakan salah satu bagian yang paling mengagumkan dalam Perjanjian Lama. Setelah Allah menyatakan hukum-Nya kepada Israel di Gunung Sinai, tibalah saat perjanjian itu diteguhkan melalui korban persembahan dan kemudian diakhiri dengan sebuah perjamuan kudus di hadapan Allah. Pemandangan ini begitu luar biasa: Musa, Harun, Nadab, Abihu, dan tujuh puluh tua-tua Israel naik ke gunung, memandang kemuliaan Allah, lalu "makan dan minum" di hadapan-Nya.

Dalam budaya Timur Dekat kuno, makan bersama bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan lambang persahabatan, perdamaian, dan hubungan perjanjian. Karena itu, perjamuan di Gunung Sinai menunjukkan bahwa Allah mengikat umat-Nya dalam sebuah hubungan kasih karunia. Mereka diterima bukan karena kesalehan mereka, melainkan karena darah korban yang telah dipercikkan sebagai tanda pengesahan perjanjian.

Peristiwa ini juga menjadi bayangan yang sangat jelas tentang Perjamuan Kudus yang kelak ditetapkan oleh Kristus bagi gereja-Nya.

Darah Perjanjian Menjadi Dasar Persekutuan

Sebelum umat menikmati perjamuan, Musa terlebih dahulu mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Darah korban itu dibagi dua: sebagian dipercikkan ke mezbah, sebagian lagi dipercikkan kepada bangsa Israel.
Musa berkata,
"Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu." (Keluaran 24:8)

Perkataan ini memiliki gema yang sangat kuat dalam Perjanjian Baru ketika Yesus mengambil cawan saat Perjamuan Terakhir:
"Inilah darah-Ku, darah perjanjian..." (Markus 14:24).

Hubungan dengan Allah selalu dibangun melalui darah pendamaian. Dalam Perjanjian Lama darah binatang menjadi lambang pengampunan, sedangkan dalam Perjanjian Baru semuanya digenapi secara sempurna melalui darah Kristus di kayu salib.

John Calvin menulis:

"Tidak seorang pun dapat menghampiri Allah kecuali terlebih dahulu didamaikan oleh pengorbanan."
(Commentary on Exodus)

Calvin mengingatkan bahwa kekudusan Allah tidak pernah berubah. Dosa manusia tetap menjadi penghalang. Jalan menuju hadirat Allah hanya terbuka melalui pendamaian yang Allah sendiri sediakan.

Melihat Allah karena Anugerah

Ayat 10 mengatakan bahwa para tua-tua Israel "melihat Allah Israel." Pernyataan ini sering menimbulkan pertanyaan, sebab bagian Alkitab lain mengatakan bahwa manusia tidak dapat melihat Allah dan tetap hidup.

Yang dimaksud di sini bukanlah bahwa mereka melihat hakikat Allah secara penuh. Mereka melihat suatu penyataan kemuliaan-Nya yang Allah berkenan nyatakan kepada manusia. Bahkan penulis Keluaran lebih banyak menggambarkan apa yang berada di bawah kaki Allah daripada rupa-Nya sendiri.

Yang lebih mengherankan lagi adalah ayat 11:
"Ia tidak mengulurkan tangan-Nya terhadap pemuka-pemuka orang Israel itu."
Kalimat ini menunjukkan bahwa secara alami mereka sebenarnya layak menerima hukuman. Namun Allah memilih menunjukkan belas kasihan.

Matthew Henry memberikan komentar yang sangat indah:

"Mereka hidup, padahal telah melihat Allah; dan mereka berpesta, padahal berada di hadapan Hakim seluruh bumi. Ini adalah bukti kemurahan Allah yang luar biasa."

Keselamatan memang selalu merupakan anugerah. Tidak ada manusia yang mampu berdiri di hadapan Allah berdasarkan kebaikannya sendiri.

Perjamuan Sinai Menunjuk kepada Kristus

Dalam perspektif teologi Reformed, seluruh Perjanjian Lama mengarah kepada Kristus. Perjamuan di Gunung Sinai bukanlah tujuan akhir, melainkan bayangan dari karya penebusan yang sempurna.
Korban-korban di Sinai menunjuk kepada Kristus sebagai Anak Domba Allah.
Darah perjanjian menunjuk kepada darah Kristus.
Perjamuan bersama Allah menunjuk kepada Perjamuan Kudus yang dirayakan gereja.
Bahkan lebih jauh lagi, semuanya mengarah kepada perjamuan kawin Anak Domba yang akan dinikmati umat tebusan dalam kekekalan.

Geerhardus Vos, seorang teolog Reformed yang dikenal sebagai pelopor Teologi Alkitab, mengatakan:
"Seluruh sejarah penebusan bergerak menuju persekutuan yang semakin sempurna antara Allah dan umat-Nya."

Apa yang terjadi di Sinai hanyalah awal dari perjalanan panjang itu. Di dalam Kristus, persekutuan tersebut mencapai puncaknya.

Perjanjian Menuntut Ketaatan

Sebelum darah dipercikkan, bangsa Israel terlebih dahulu berkata:
"Segala firman yang difirmankan TUHAN itu akan kami lakukan."

Ketaatan bukanlah syarat agar Allah mengasihi mereka. Sebaliknya, ketaatan merupakan respons terhadap kasih karunia Allah yang lebih dahulu mengikat mereka dalam perjanjian.

Inilah salah satu penekanan penting dalam teologi Reformed. Keselamatan bukan diperoleh melalui perbuatan baik, tetapi orang yang telah diselamatkan akan menghasilkan kehidupan yang taat.

John Calvin menulis:
"Ketaatan adalah buah iman yang sejati."

Karena itu, kehidupan Kristen bukan sekadar mengetahui firman Tuhan, tetapi hidup di dalamnya setiap hari. Persekutuan dengan Allah selalu menghasilkan perubahan hidup.

Renungan bagi Kehidupan Kita

Banyak orang menginginkan berkat Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh menghargai hubungan perjanjian dengan-Nya. Mereka ingin menikmati damai sejahtera tanpa hidup dalam ketaatan kepada Firman.

Keluaran 24 mengajarkan bahwa Allah memanggil umat-Nya masuk ke dalam persekutuan yang kudus. Jalan menuju hadirat-Nya telah dibuka melalui darah Kristus. Kini setiap orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai umat perjanjian yang mengasihi Tuhan dan menaati firman-Nya.

Setiap kali gereja merayakan Perjamuan Kudus, kita diingatkan bahwa hubungan kita dengan Allah berdiri di atas pengorbanan Kristus, bukan atas usaha manusia. Kita datang dengan rasa syukur, hormat, dan sukacita karena telah diterima menjadi anak-anak Allah.

Perjamuan di Gunung Sinai juga memberi pengharapan akan masa depan. Suatu hari nanti seluruh umat tebusan akan duduk bersama Kristus dalam perjamuan kekal di Kerajaan Allah. Apa yang hanya dinikmati oleh Musa dan para tua-tua Israel dalam bayangan, kelak akan dinikmati secara sempurna oleh semua orang percaya di hadirat Tuhan untuk selama-lamanya.

Penutup

Perjamuan di Gunung Sinai merupakan gambaran indah tentang kasih karunia Allah yang mengundang manusia berdosa masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya. Dasar persekutuan itu bukanlah kelayakan manusia, melainkan darah perjanjian yang menunjuk kepada pengorbanan Yesus Kristus.

Karena itu, marilah kita hidup sebagai umat perjanjian: bersandar sepenuhnya pada kasih karunia Kristus, setia menaati Firman-Nya, dan memelihara kerinduan untuk menikmati persekutuan yang semakin dalam dengan Tuhan. Sebab Allah yang mengundang Musa dan para tua-tua ke meja perjamuan di Gunung Sinai adalah Allah yang sama yang hari ini mengundang setiap orang percaya untuk datang kepada-Nya melalui Yesus Kristus, Sang Pengantara Perjanjian Baru.

Download:
📖 Baca Dokumen Online
⬇️ Download Dokumen DOCX

Posting Komentar