Renungan Kejadian 9:1-17: Berkat dan Perlindungan Allah Melalui Perjanjian Nuh

"Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak akan ada lagi yang dilenyapkan oleh air bah menjadi binasa dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
Berkat dan Perlindungan Allah Melalui Perjanjian Nuh
Kejadian 9:1-17 merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah penebusan. Setelah dunia dihancurkan oleh air bah sebagai hukuman atas dosa manusia, Allah tidak membiarkan Nuh dan keluarganya hidup dalam ketidakpastian. Sebaliknya, Ia menyatakan berkat-Nya, memperbarui mandat bagi manusia, dan mengikat diri-Nya dalam sebuah perjanjian yang kekal.
Perjanjian Nuh bukan sekadar janji bahwa Allah tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah. Dalam perspektif teologi Reform, perjanjian ini merupakan bukti bahwa Allah tetap memelihara ciptaan-Nya agar rencana keselamatan-Nya terus berlangsung hingga mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, berkat dan perlindungan Allah melalui Perjanjian Nuh menjadi dasar berlangsungnya sejarah penebusan.
Di tengah dunia yang masih dipenuhi dosa, Allah tetap menyatakan diri sebagai Allah yang setia. Ia tetap memelihara bumi, mengatur alam semesta, menopang kehidupan manusia, dan menggenapi setiap janji-Nya. Inilah penghiburan besar bagi orang percaya: hidup kita berada di bawah pemeliharaan Allah yang tidak pernah gagal.
Allah Memberkati Sebelum Memberikan Tugas
Ayat pertama dimulai dengan kalimat yang penuh kasih karunia:
"Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.'"
Pola ini mengingatkan kita pada Kejadian 1:28 ketika Allah memberkati Adam dan Hawa sebelum memberikan mandat budaya. Setelah kejatuhan manusia dan penghukuman air bah, Allah ternyata tidak membatalkan tujuan-Nya bagi dunia. Ini merupakan kabar yang sangat menghiburkan. Dosa memang membawa kerusakan yang besar, tetapi dosa tidak pernah mampu menggagalkan rencana Allah.
John Calvin, dalam komentarnya atas Kitab Kejadian, menulis:"Sekalipun dunia telah dihukum karena dosa, Allah tetap menunjukkan diri-Nya sebagai Bapa yang murah hati dengan memperbarui berkat-Nya kepada umat manusia."
Teologi Reform selalu menekankan bahwa inisiatif keselamatan maupun pemeliharaan berasal dari Allah. Berkat Allah selalu mendahului ketaatan manusia. Kita tidak bekerja untuk memperoleh kasih karunia, tetapi karena terlebih dahulu telah menerima kasih karunia.
Prinsip ini masih berlaku hingga hari ini. Segala kemampuan bekerja, kesehatan, keluarga, kesempatan melayani, bahkan napas kehidupan merupakan pemberian Allah sebelum kita melakukan apa pun bagi-Nya.
Perjanjian Nuh sebagai Dasar Pemeliharaan Dunia
Bagian terpenting dari Kejadian 9 adalah ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh.
Yang menarik, perjanjian ini tidak hanya diberikan kepada Nuh dan keturunannya, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup dan bahkan kepada bumi itu sendiri (ayat 9-10).
Artinya, Perjanjian Nuh memiliki cakupan yang bersifat universal.
Mengapa Allah melakukan hal ini?
Karena Allah berkehendak memelihara dunia agar sejarah penebusan terus berlangsung. Seandainya Allah terus menghukum dunia dengan air bah setiap kali dosa manusia memuncak, maka sejarah keselamatan tidak akan pernah mencapai penggenapannya.
Allah tetap menopang dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Matahari tetap terbit, musim terus berganti, bumi menghasilkan makanan, manusia tetap berkembang biak, dan kehidupan terus berjalan bukan karena dunia berjalan dengan sendirinya, melainkan karena Allah terus menopangnya.
Teolog Reformed O. Palmer Robertson mendefinisikan perjanjian sebagai:
"A covenant is a bond in blood sovereignly administered."
("Perjanjian adalah ikatan yang ditetapkan Allah secara berdaulat.")
Melalui Perjanjian Nuh, Allah secara berdaulat mengikat diri-Nya untuk memelihara dunia demi terlaksananya rencana penebusan-Nya.
Herman Bavinck juga menulis:"Perjanjian adalah bentuk di mana Allah berkenan bersekutu dengan manusia berdasarkan kasih karunia-Nya."
Dengan demikian, Perjanjian Nuh bukan sekadar janji tentang cuaca atau bencana alam. Perjanjian ini menjadi dasar mengapa dunia masih tetap berdiri hingga hari ini. Dunia terus berlangsung karena Allah masih menggenapi rencana keselamatan-Nya.
Allah Memelihara Dunia Melalui Anugerah Umum
Dalam ayat 2-4, Allah memberikan manusia kuasa atas binatang dan mengizinkan manusia memakan daging, meskipun darah tetap dilarang untuk dimakan. Di sinilah kita melihat apa yang dalam teologi Reform disebut Anugerah Umum (Common Grace).
Allah tetap memberikan berbagai kebaikan kepada seluruh umat manusia tanpa membedakan apakah mereka percaya atau tidak. Hujan turun bagi orang benar maupun orang fasik. Bumi menghasilkan panen bagi semua orang. Ilmu pengetahuan berkembang. Pemerintahan tetap berjalan. Dunia masih memiliki keteraturan
. Abraham Kuyper menjelaskan:"Anugerah umum adalah tindakan Allah menahan akibat penuh dari dosa sehingga dunia tetap dapat berlangsung."
Tanpa anugerah umum, dunia akan segera tenggelam dalam kekacauan total akibat dosa. Karena itu, setiap makanan yang kita nikmati, setiap musim panen, kesehatan, keamanan, bahkan stabilitas masyarakat merupakan bagian dari pemeliharaan Allah atas dunia.
Kehidupan Manusia Sangat Berharga
Ayat 5-6 berbicara mengenai hukuman atas pembunuhan.
Alasannya sangat mendasar:
"...sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri."
Nilai manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, kecerdasan, usia, kesehatan, ataupun status sosialnya. Nilai manusia berasal dari fakta bahwa ia diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei).
Karena itu, setiap kehidupan memiliki martabat yang kudus.
"Manusia dihormati bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena gambar Allah yang melekat padanya."
Pandangan ini menjadi fondasi etika Kristen. Orang percaya dipanggil menghormati kehidupan, membela yang tertindas, mengasihi sesama, dan menolak segala bentuk kekerasan yang merendahkan martabat manusia.
Pelangi sebagai Tanda Kesetiaan Allah
Allah kemudian memberikan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya. Banyak orang memandang pelangi hanya sebagai fenomena alam yang indah. Namun Alkitab memberikan makna yang jauh lebih dalam.
Pelangi mengingatkan kita akan tiga hal.
Pertama, Allah sungguh membenci dosa dan pernah menghukum dunia melalui air bah.
Kedua, Allah adalah Allah yang penuh belas kasihan dan tetap memelihara ciptaan-Nya.
Ketiga, Allah setia terhadap janji-Nya.
John Calvin menjelaskan bahwa pelangi bukan menciptakan janji Allah, melainkan menjadi tanda yang mengingatkan manusia akan janji yang telah lebih dahulu Allah tetapkan.
Setiap kali pelangi muncul, umat percaya diingatkan bahwa dunia masih berdiri karena kesetiaan Allah, bukan karena kemampuan manusia mempertahankannya.
Perjanjian Nuh Digenapi di Dalam Kristus
Walaupun Kejadian 9 berbicara tentang Nuh, sesungguhnya bagian ini menunjuk kepada karya Kristus.
Perjanjian Nuh menjaga dunia tetap ada.
Perjanjian dengan Abraham mempersiapkan umat pilihan.
Perjanjian dengan Daud mempersiapkan Sang Raja.
Semuanya mencapai penggenapannya di dalam Yesus Kristus.
Perjanjian Nuh bukanlah tujuan akhir. Perjanjian ini adalah panggung tempat Allah menggenapi Injil.
Allah mempertahankan dunia bukan semata-mata agar manusia hidup nyaman, melainkan supaya sejarah penebusan terus berjalan hingga Sang Mesias datang.
Dengan demikian, setiap musim yang berganti, setiap generasi yang lahir, bahkan setiap pelangi yang menghiasi langit merupakan kesaksian bahwa Allah sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya.
Sebagaimana bahtera menjadi tempat perlindungan bagi Nuh dari penghukuman air bah, demikian pula Kristus menjadi tempat perlindungan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Di luar bahtera terdapat kebinasaan.
Di dalam bahtera terdapat keselamatan.
Demikian pula di luar Kristus terdapat murka Allah atas dosa, tetapi di dalam Kristus tersedia pengampunan, pembenaran, dan hidup yang kekal.
Refleksi bagi Orang Percaya
Kejadian 9:1-17 mengajarkan bahwa hidup orang percaya berada di bawah pemeliharaan Allah setiap saat. Dunia memang masih dipenuhi dosa, bencana, penyakit, dan ketidakpastian, tetapi tidak satu pun dari semuanya berada di luar kedaulatan Allah.
Ketika kita menikmati keluarga, pekerjaan, kesehatan, makanan, damai sejahtera, dan kesempatan untuk melayani Tuhan, kita sedang menikmati berkat yang mengalir dari Allah yang setia kepada perjanjian-Nya.
Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan. Allah yang memelihara Nuh di tengah air bah adalah Allah yang sama yang memelihara gereja-Nya hingga hari ini. Ia tidak pernah meninggalkan umat yang telah ditebus-Nya.
Setiap kali melihat pelangi, biarlah kita tidak hanya mengagumi keindahan warnanya. Ingatlah bahwa pelangi merupakan tanda kesetiaan Allah yang tetap memelihara dunia sampai seluruh rencana penebusan-Nya selesai digenapi.
Penutup
Renungan Kejadian 9:1-17 mengingatkan kita bahwa berkat dan perlindungan Allah melalui Perjanjian Nuh bukan sekadar kisah setelah air bah, melainkan bagian penting dari karya Allah dalam sejarah keselamatan. Perjanjian ini menunjukkan bahwa Allah tetap memelihara dunia yang telah jatuh ke dalam dosa agar janji penebusan-Nya digenapi melalui Yesus Kristus.
Karena itu, setiap kali kita menikmati pemeliharaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, marilah kita mengingat bahwa semuanya berasal dari kasih karunia-Nya. Allah yang dahulu setia kepada Nuh tetap setia kepada gereja-Nya pada masa kini. Ia tidak pernah mengingkari janji-Nya, tidak pernah meninggalkan umat-Nya, dan akan terus memelihara mereka sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan.
Kiranya kebenaran ini memenuhi hati kita dengan ucapan syukur, meneguhkan iman kita di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dan mendorong kita untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah yang senantiasa setia kepada perjanjian-Nya.
Amin
Posting Komentar