Renungan Ester 3:1-15 : Ketika Kesombongan Melahirkan Kejahatan, Allah Tetap Bekerja
Di dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita melihat seseorang yang memiliki jabatan mulai berubah. Kekuasaan yang seharusnya dipakai untuk melayani justru dipakai untuk menuntut penghormatan. Ketika harga diri yang berlebihan dipelihara, sedikit penolakan saja bisa berubah menjadi kemarahan yang besar. Itulah yang terjadi dalam Ester pasal 3.
Pasal ini menjadi titik balik dari seluruh kitab Ester. Di sinilah ancaman pemusnahan terhadap bangsa Yahudi dimulai. Namun, walaupun nama Allah tidak pernah disebutkan di kitab Ester, tangan-Nya sedang bekerja mengatur setiap peristiwa. Apa yang tampak sebagai kemenangan orang jahat sebenarnya sedang dipakai Allah untuk menyatakan penyelamatan-Nya.

Kesombongan Haman yang Menguasai Hati
Raja Ahasyweros mengangkat Haman menjadi pejabat tertinggi di kerajaannya. Semua pegawai istana diperintahkan untuk sujud dan memberi hormat kepadanya (Ester 3:1-2).
Namun ada satu orang yang tidak melakukannya, yaitu Mordekhai.
Alkitab tidak menjelaskan secara rinci alasan Mordekhai menolak sujud. Kemungkinan besar tindakan itu berkaitan dengan kesetiaannya kepada Allah. Ia tidak mau memberikan penghormatan yang bertentangan dengan imannya.
Masalahnya bukan sekadar Mordekhai tidak memberi hormat. Yang menjadi persoalan adalah hati Haman.
Alih-alih mengabaikan satu orang yang menolak menghormatinya, Haman justru dipenuhi amarah. Bahkan ia tidak puas hanya membunuh Mordekhai. Ia merancang pembantaian seluruh bangsa Yahudi.
Inilah akibat dari kesombongan. Kesombongan membuat seseorang kehilangan akal sehat. Luka kecil pada harga diri berubah menjadi kebencian yang sangat besar.
John Calvin pernah menulis:
"Hati manusia adalah pabrik berhala yang terus-menerus menghasilkan sesuatu untuk menggantikan Allah."
Perkataan Calvin mengingatkan bahwa ketika diri sendiri menjadi "berhala", kita akan menuntut penghormatan yang seharusnya hanya layak diterima Allah. Haman tidak sedang mencari keadilan, tetapi sedang menyembah egonya sendiri.
Mordekhai Memilih Tetap Setia
Mordekhai mengetahui risiko dari keputusannya.
Ia tahu Haman memiliki kuasa yang besar. Ia juga tahu penolakannya bisa berakibat fatal. Namun ia tetap memilih taat kepada keyakinannya.
Kesetiaan kepada Allah memang tidak selalu membuat hidup menjadi mudah.
Kadang-kadang orang percaya harus menghadapi tekanan di tempat kerja, sekolah, bahkan dalam keluarga karena mempertahankan prinsip iman. Dunia sering meminta kita berkompromi agar diterima oleh semua orang.
Mordekhai mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan lebih penting daripada kenyamanan sementara.
Kesetiaan tidak selalu menghasilkan kemenangan yang cepat. Tetapi kesetiaan selalu berharga di hadapan Allah.
Dusta yang Membawa Kehancuran
Haman kemudian datang kepada raja dan memfitnah bangsa Yahudi.
Ia berkata bahwa ada suatu bangsa yang mempunyai hukum berbeda dan tidak menaati hukum kerajaan (ayat 8). Haman menyampaikan sebagian fakta tetapi menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya.
Inilah salah satu ciri pekerjaan dosa.
Dosa sering tidak datang dalam bentuk kebohongan yang sepenuhnya palsu. Dosa sering memakai sebagian kebenaran untuk menghasilkan kebohongan yang lebih meyakinkan.
Raja yang tidak menyelidiki persoalan itu akhirnya menyerahkan cincin kerajaannya kepada Haman. Sebuah keputusan yang tergesa-gesa akhirnya mengancam kehidupan seluruh bangsa Yahudi.
Matthew Henry memberikan komentar yang sangat menarik mengenai bagian ini:
"Mereka yang dipimpin oleh kesombongan dan amarah sering kali menjadi alat untuk melakukan ketidakadilan yang paling besar."
Perkataan ini terlihat jelas pada diri Haman. Jabatan yang dipercayakan kepadanya dipakai bukan untuk melayani rakyat, tetapi untuk memuaskan dendam pribadinya.
Allah Tetap Bekerja Walaupun Tidak Disebutkan
Salah satu hal yang unik dari kitab Ester adalah nama Allah tidak pernah muncul secara langsung.
Namun justru di situlah keindahannya.
Allah hadir melalui peristiwa-peristiwa biasa.
Raja mengangkat Haman.
Mordekhai menolak sujud.
Haman menjadi marah.
Undi "pur" dibuang untuk menentukan hari pembantaian.
Surat-surat dikirim ke seluruh kerajaan.
Semua tampak seperti rangkaian kejadian biasa. Tetapi pembaca kitab Ester mengetahui bahwa Allah sedang menyusun cerita yang jauh lebih besar.
Sering kali kita juga mengalami hal yang sama.
Ketika menghadapi masalah, kita bertanya, "Di mana Tuhan?"
Padahal Tuhan sedang bekerja melalui hal-hal yang tidak kita sadari.
Ia bekerja melalui orang-orang di sekitar kita.
Ia bekerja melalui keputusan-keputusan kecil.
Ia bekerja melalui waktu yang menurut kita terlalu lama.
Pemeliharaan Allah sering kali baru terlihat ketika kita menoleh ke belakang.
Pelajaran bagi Kehidupan Kita
Ester 3 mengajarkan beberapa hal penting.Pertama, kesombongan adalah awal dari banyak dosa. Ketika seseorang menganggap dirinya pusat segala sesuatu, ia akan mudah menyakiti orang lain demi mempertahankan kehormatannya.
Kedua, kesetiaan kepada Allah kadang membawa penderitaan, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Ketiga, jangan mengambil keputusan berdasarkan kemarahan atau informasi yang belum diuji. Raja Ahasyweros menjadi contoh bagaimana keputusan yang tergesa-gesa dapat membawa bencana besar.
Keempat, percayalah kepada pemeliharaan Tuhan. Walaupun kita belum melihat jalan keluar, Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah maupun hidup kita.
Penutup
Ester 3 mungkin tampak sebagai pasal yang gelap. Orang jahat berkuasa, orang benar terancam, dan masa depan terlihat suram.
Namun pembaca kitab Ester mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh Haman maupun Mordekhai: cerita belum selesai.
Allah sedang bekerja.
Begitu pula dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita merasa keadaan semakin buruk, doa belum dijawab, atau ketidakadilan tampak menang. Tetapi Allah yang memimpin kisah Ester adalah Allah yang sama yang memimpin hidup orang percaya hari ini.
Karena itu, jangan menjadi seperti Haman yang dikuasai kesombongan. Jangan pula menyerah ketika menghadapi tekanan seperti Mordekhai. Tetaplah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan, sebab Dia bekerja bahkan ketika kita belum melihat pekerjaan-Nya.
Kiranya renungan ini menguatkan kita untuk tetap rendah hati, setia kepada Tuhan, dan percaya bahwa pemeliharaan-Nya tidak pernah berhenti, sekalipun keadaan tampak gelap. Amin.
Posting Komentar