Persepuluhan Menurut Alkitab: Kewajiban atau Prinsip Memberi?

Table of Contents
Gambar ilustrasi Persepuluhan menurut Alkitab: Kewajiban atau Prinsip Memberi

Bacaan Pendukung: Kejadian 14:18-20; Maleakhi 3:8-10; Matius 23:23; 2 Korintus 8-9; Ibrani 7

Persepuluhan merupakan salah satu doktrin yang paling banyak diperdebatkan di dalam gereja. Ada gereja yang mengajarkan bahwa setiap orang percaya wajib memberikan sepersepuluh dari penghasilannya kepada Tuhan. Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa persepuluhan adalah bagian dari Hukum Taurat yang telah digenapi di dalam Kristus, sehingga tidak lagi menjadi kewajiban bagi orang Kristen. Perlu disadari bahwa kedua pandangan ini sama-sama berusaha setia kepada Alkitab. Perbedaannya terletak pada cara memahami hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai persepuluhan hendaknya dilakukan dengan rendah hati dan kasih, bukan dengan saling menghakimi.

Pandangan Pertama: Persepuluhan Masih Berlaku Bagi Orang Kristen

Pandangan ini dianut oleh banyak gereja Injili, Pentakosta, Karismatik, dan sebagian gereja Reformed. Mereka berpendapat bahwa memberikan persepuluhan tetap merupakan kewajiban atau setidaknya prinsip yang mengikat bagi umat Tuhan.

1. Persepuluhan Mendahului Hukum Taurat

Argumen pertama adalah bahwa persepuluhan sudah ada jauh sebelum Musa menerima Taurat di Gunung Sinai.
Abraham memberikan sepersepuluh dari rampasan perang kepada Melkisedek.
"Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya." (Kejadian 14:20) Demikian pula Yakub bernazar:
"Segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu." (Kejadian 28:22)

Karena kedua peristiwa ini terjadi sebelum hukum Musa diberikan, pendukung pandangan ini berkesimpulan bahwa persepuluhan merupakan prinsip yang bersifat universal dan tidak hanya berlaku bagi bangsa Israel.

2. Yesus Tidak Membatalkan Persepuluhan

Dalam Matius 23:23 Yesus menegur orang Farisi:
"Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan."

Menurut pendukung persepuluhan, Yesus tidak mengatakan bahwa persepuluhan harus dihentikan. Yang Ia kecam adalah kemunafikan: mereka rajin membayar persepuluhan tetapi mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Dengan demikian, mereka berpendapat bahwa Yesus justru mengakui praktik tersebut sambil menekankan bahwa hati lebih penting daripada ritual.

3. Prinsip Menghormati Tuhan dengan Harta

Kitab Amsal mengajarkan:
"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu." (Amsal 3:9)

Menurut pandangan ini, persepuluhan merupakan salah satu cara praktis untuk menghormati Tuhan dan mengakui bahwa seluruh berkat berasal dari-Nya.

4. Dukungan bagi Pelayanan Gereja

Dalam Perjanjian Lama, persepuluhan menopang pelayanan suku Lewi. Di masa kini, gereja tetap membutuhkan dukungan untuk:

  • menggaji hamba Tuhan,
  • membiayai misi,
  • pelayanan sosial,
  • pendidikan Kristen,
  • penginjilan,
  • dan pemeliharaan fasilitas gereja.

Karena itu, angka 10% dianggap sebagai standar yang baik agar pelayanan Tuhan dapat terus berjalan.

Pandangan Kedua: Persepuluhan Tidak Lagi Mengikat Orang Kristen

Pandangan ini cukup banyak ditemukan di kalangan teolog Reformed, Baptis, dan para sarjana Perjanjian Baru. Mereka tidak menolak memberi kepada gereja, tetapi menolak bahwa angka 10% merupakan kewajiban yang diperintahkan kepada gereja Perjanjian Baru.

1. Persepuluhan Merupakan Bagian dari Sistem Taurat

Menurut pandangan ini, persepuluhan bukanlah sekadar aturan memberi uang, melainkan bagian dari keseluruhan sistem ibadah Israel.
Persepuluhan berkaitan erat dengan:

  • Bait Allah,
  • suku Lewi,
  • imam,
  • korban-korban,
  • dan pemerintahan teokratis Israel.

Karena Kristus telah menggenapi seluruh sistem tersebut, maka kewajiban itu tidak lagi berlaku secara hukum.

Penulis Ibrani bahkan menegaskan bahwa perubahan imamat membawa perubahan hukum (Ibrani 7:12).

2. Perjanjian Baru Tidak Pernah Memerintahkan Persepuluhan

Inilah salah satu argumen terkuat.
Surat-surat Paulus berkali-kali membahas mengenai memberi, tetapi tidak pernah menetapkan angka 10%.
Sebaliknya ia berkata:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Menurut pandangan ini, apabila persepuluhan memang merupakan kewajiban bagi gereja, tentu para rasul akan mengajarkannya secara eksplisit.

3. Gereja Mula-mula Tidak Mempraktikkan Sistem Persepuluhan

Dalam Kisah Para Rasul, orang percaya bahkan menjual tanah dan rumah demi membantu sesama.
Sebagian memberi jauh lebih dari 10%.
Sebagian memberi sesuai kemampuan.
Tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan para rasul menghitung apakah seseorang telah memberikan tepat sepersepuluh.
Fokus mereka adalah kasih dan kemurahan hati.

4. Kasih Karunia Menggantikan Sistem Persentase

Pendukung pandangan ini mengatakan bahwa kasih karunia justru menuntut lebih tinggi daripada sekadar 10%.

Bagi orang miskin, mungkin memberi 10% akan sangat memberatkan.

Sebaliknya, bagi orang yang sangat kaya, memberi hanya 10% bisa jadi jauh dari semangat pengorbanan.

Karena itu, Perjanjian Baru tidak menetapkan persentase, melainkan menyerahkan pemberian kepada hati yang telah diubahkan oleh Injil.

Bagaimana Pandangan Para Teolog Reform?

Dalam tradisi Reform ternyata tidak terdapat satu suara yang mutlak.

John Calvin

Calvin tidak mengajarkan bahwa hukum persepuluhan secara literal mengikat orang Kristen.

Ia melihat persepuluhan sebagai bagian dari tata ibadah bangsa Israel.

Namun, Calvin sangat menekankan bahwa gereja harus dipelihara dengan baik, para pelayan Firman harus didukung secara layak, dan orang miskin harus diperhatikan.

Dalam komentarnya atas Maleakhi dan berbagai khotbahnya, Calvin lebih menekankan prinsip kemurahan hati daripada kewajiban angka 10%.

Herman Bavinck

Bavinck memandang bahwa seluruh hidup orang percaya adalah milik Kristus. Karena itu, orang Kristen tidak boleh berhitung secara legalistis, tetapi memberi sebagai buah syukur atas anugerah Allah.

R. C. Sproul

Sproul berpendapat bahwa persepuluhan merupakan pedoman yang baik untuk melatih disiplin memberi, tetapi ia juga mengingatkan bahwa Perjanjian Baru lebih menekankan hati daripada sekadar persentase.

Kelebihan dan Kelemahan Masing-Masing Pandangan

Pandangan yang mendukung persepuluhan

Kelebihan

  • Mendorong disiplin memberi.
  • Membantu gereja memiliki sumber dana yang stabil.
  • Mengingatkan bahwa seluruh berkat berasal dari Tuhan.
  • Menolong orang percaya melawan sifat cinta uang.

Kelemahan

  • Berisiko berubah menjadi legalisme.
  • Dapat menimbulkan rasa bersalah apabila seseorang tidak mencapai angka 10%.
  • Kadang-kadang dipakai secara keliru untuk menjanjikan "berkat finansial" jika seseorang membayar persepuluhan, padahal Alkitab tidak mengajarkan hubungan mekanis seperti itu.

Pandangan yang menolak kewajiban persepuluhan

Kelebihan

  • Menjaga kemurnian ajaran kasih karunia.
  • Sesuai dengan penekanan Perjanjian Baru tentang pemberian yang sukarela.
  • Menghindarkan gereja dari legalisme.

Kelemahan

  • Sebagian orang dapat menyalahgunakannya sebagai alasan untuk tidak memberi sama sekali.
  • Tanpa disiplin yang jelas, ada jemaat yang memberi sangat sedikit meskipun mampu.

Renungan

Apabila kita membaca seluruh Alkitab, kita akan menemukan bahwa fokus utama bukanlah angka 10%, melainkan siapa pemilik seluruh hidup kita.

Di Perjanjian Lama, Allah mengajarkan umat-Nya melalui persepuluhan bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya.

Di Perjanjian Baru, Kristus membawa kita lebih jauh lagi. Ia bukan hanya meminta sepersepuluh, tetapi memanggil kita untuk menyerahkan seluruh hidup sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi, "Apakah saya sudah memberi 10%?" melainkan, "Apakah seluruh hidup dan harta saya sungguh saya kelola untuk kemuliaan Tuhan?"

Bagi sebagian orang percaya, memberikan 10% dapat menjadi bentuk disiplin rohani yang baik. Namun, disiplin itu tidak boleh dijadikan ukuran kerohanian atau dasar untuk menghakimi orang lain. Sebaliknya, mereka yang tidak menganggap persepuluhan sebagai kewajiban juga tidak boleh menggunakan kebebasan itu sebagai alasan untuk hidup kikir. Kasih karunia tidak pernah menghasilkan hati yang pelit; justru kasih karunia melahirkan kemurahan hati yang rela berkorban.

Pada akhirnya, baik yang mendukung maupun yang menolak kewajiban persepuluhan seharusnya dapat sepakat pada satu prinsip: Allah menghendaki umat-Nya memberi dengan iman, sukacita, dan kasih, untuk mendukung pemberitaan Injil, memelihara para pelayan Firman, dan menolong mereka yang membutuhkan. Di situlah inti pengajaran Alkitab tentang memberi.

Download:
📖 Baca Dokumen Online
⬇️ Download Dokumen DOCX

Posting Komentar